Kamis, 11 September 2014

Sonotoki, ai wa hajimatte iru : Chapter I: One


“Baiklah, Sekarang pidato dari perwakilan siswa baru, murid dengan nilai tertinggi, Asahina Kamito, untuk perwakilan siswa baru, dipersilahkan maju kedepan”

Sesosok laki-laki dengan Wajah keren serta senyuman maut yg mampu melelehkan hati seluruh perempuan berdiri diatas podium, Rambut nya berkilau disinari lampu auditorium, tatapan matanya yg seakan membuat seluruh orang di ruangan itu tenggelam dilautan Karisma-nya.

Setelah acara pembukaan selesai, seluruh murid langsung bubar dari auditorium, sebagian besar murid pergi mengecek namanya di papan pengumuman.

“Kelas Raven I, kah” gumanku.


Sesampainya di kelas Raven I, Aku segera memilih tempat duduk di nomor 2 paling atas tepatnya diujung sebelah kiri.

“A-Ano, Hajimemashite, Watashi Kisumi Makita” kata seorang perempuan memperkenalkan dirinya kepadaku.


Dia... Perempuan tadi yg dikelilingi oleh para murid laki-laki’ pikir ku.

Apa tidak ada tempat yg tenang untukku’ tambahku lalu mengangkat tas-nya dan bersiap-siap untuk pindah, tetapi tanganku ditahan oleh perempuan ini.

“To-Tolong jangan pindah, Kumohon!” pintanya.

Oh, Jadi begitu, perempuan populer memang banyak dijauhi oleh perempuan-perempuan lain’ pikirku.

“Wanita yg kesepian” gumamku.

“A-Apa barusan kau mengatakan sesuatu?” tanyanya.

“Tidak, Bukan apa-apa, Baiklah aku akan duduk disebelahmu jika kau memaksa” kataku duduk kembali disebelahnya.

“Be-Benarkah? Arigatou Gozaimasu—”

“Megumi Haruka, Kau Boleh memanggilku sesukamu” kataku.

“Arigatou Gozaimasu, Haru-chan” Sambungnya.

“Tidak Masalah Kisumi-san”

“Kau Boleh memanggilku Makita” katanya.

“Baiklah, Makita” Ulangku.

Setelah itu, Guru wali kelas masuk ke kelas kami.

“Penentuan Pengurus kelas, dimulai!” katanya Tiba-Tiba.

“Ada yg mencalonkan? Baiklah tidak ada yg mencalonkan, biar kutunjuk, kau ketua kelas, kau wakilnya, kau sekretaris, baiklah kita sudah dapat, aku pergi dulu” katanya cepat, dan dengan cepat pula keluar dari kelas.

Seluruh murid dikelas terdiam dengan mulut terbuka, ‘Guru macam apa itu’ pikir mereka semua, ia asal menunjuk murid untuk menjadi pengurus kelas lalu keluar seenaknya, benar-benar guru yg menyebalkan.

Tanpa memperdulikan apa-apa dan seakan tidak terjadi apa-apa, aku keluar dari kelas bersama Makita yg mengikutiku.

“Mau kemana?” Tanyanya.

“Kantin” jawabku singkat.

-----Sesampainya dikantin-------

Aku membeli beberapa roti dan minuman dingin, lalu berjalan keluar kantin.
“A-Ano, Kau mau kemana, Haru-chan?” tanyanya lagi.

“Atap” jawabku singkat (lagi).

Saat kami sudah sampai di tangga lantai 3, tiba-tiba Makita berhenti.

“Ada apa?” tanyaku.
“Go-Gomen, Bento-ku ketinggalan di kelas, A-Aku pergi mengambil bento-ku dulu dikelas ya” jawab Makita.
“Baiklah, Kutunggu diatap” kataku.
“Be-Benarkah? Arigatou, Haru-chan” ucapnya lalu berlari menuju kelas Raven I yg ada dilantai 2.

Akhirnya aku sampai di atap, aku pun membuka pintu atap lalu berjalan keatap, saat sampai diatap aku meletakkan makananku disamping tembok bagian paling tinggi diatap, lalu berjalan menuju pagar atap menunggu Makita sambil bernyanyi lagu “I Will”.

Kudarizaka fumikiri made
Atashi wa muchuu de hashitta
Kono koi wo saegiru youni
Densha wa sugisatta

Tooi hi no kioku umi no kagayaki
Kisetsu wa meguru
Hikou kigu mo ni me wo hosomete

Chiisaku yureta himawari
Sayonara mo ienai mama
Hon no suu miri no suki made sotto
Kusuburu itami

Manatsu ni kieta hanabi ga
Namida no saki ni utsureba
I will kitto omoi dasu wa
Anata ni todoke kono basho de
Atashi wa matte iru

“Lagu dan suara yg indah” puji seseorang yg muncul dari pintu atap.
Aku melihat kearah sumber suara, Sosok yg kulihat disana adalah seorang Asahina Kamito yg sedang tersenyum kearahku, angin mulai berhembus, Itulah pertemuan pertamaku dengan laki-laki yg akan merubah hidupku yg membosankan ini menjadi berwarna.

 Keesokkan harinya...

Kamito mulai mengobrol denganku dan Makita, bahkan kami sering makan siang bersama.

Sekarang sudah memasuki Bulan Mei, tanpa sadar aku,Makita & Kamito sudah menjadi teman dekat, dan entah sejak kapan aku terbiasa dengan pemandangan ini [Aku,Makita&Kamito].

“Selamat Pagi semua, Hari ini kita kedatangan murid pindahan, Namanya Kazehaya Hide, Kuharap Kalian bisa akrab dengannya” kata Tojo-Sensei, wali kelas kami.

“Perkenalkan, Namaku Kazehaya Hide, Salam Kenal” kata seorang laki-laki, seluruh murid perempuan langsung terpesona melihatnya.


Tak Kusangka Kamito akan memiliki seorang Rival” Pikirku.

Aku melihat kearah Kamito dengan tatapan “Kasihan Sekali” dan Kamito membalas dengan tatapan “Jangan mengasihaniku!” lalu menatap Hide dengan tatapan “Mati Sana!”, Hide yg merasa ditatap oleh seorang hewan buas menatap Kamito balik dengan tatapan “Kasihan Sekali” membuat Kamito tambah kesal.

“Masih banyak Tempat duduk yg kosong, pilih mana yg kau suka” kata Tojo-Sensei.

“Hai’ Sensei” katanya lalu berjalan ketempat duduk kosong didepanku.

Saat Hide duduk disana, aku merasakan hawa gelap dari Kamito yg langsung pindah ketempat duduk sebelah Hide.

Kenapa Laki-laki satu ini” tanyaku dalam hati.

Sedangkan Makita hanya duduk diam dengan wajah panik melihat aura persaingan diantara Hide & Kamito.

----Saat istirahat----

“Makita, Haruka, Ayo keluar” ajak Kamito.

“Hai’ hai’” kataku mengambil bento ku, disusul Makita.

“A-Ano, Bo-Boleh tidak---” kata Hide gantung.

“Hm?” responku membalikkan badan, sedangkan Kamito dan Makita menunggu didepan pintu.

“Aku belum tahu apa apa tentang sekolah ini dan lagi aku belum memiliki teman, Boleh kan aku makan siang dengan kalian?” tanyanya.

“Boleh saja sih” kataku.

“Haruka, Ada apa?” tanya Kamito.

“Kazehaya-kun bilang, dia ingin makan siang bersama kita” jawabku.

“Dilarang!” kata Kamito cepat.

“Ada apa? Dia kan hanya ingin makan siang bersama kita, Bolehkan saja” tanyaku.

“Y-Ya Sudah, Kalau itu mau mu” kata Kamito Pasrah.

“Makita tidak keberatan kan?” tanyaku.

“Tidak kok, malah semakin banyak orang, semakin seru” jawabnya.

“Nah, Kau dengar sendiri kan?” kataku.

“Yatta, Arigatou” kata Hide berjalan disebelahku.

---Sesampainya di Atap---
Kami duduk membentuk lingkaran, aku duduk diantara Hide & Kamito yg saling mengeluarkan aura membunuh.

“Oh Iya, Aku belum memperkenalkan diri, namaku Megumi Haruka, kau bisa memanggilku Haruka, ini Kamito dan ini Makita” kataku memperkenalkan diri.

“Asahina Kamito”
“Kisumi Makita, kau bisa memanggilku Makita”
“Kalau begitu, kalian bisa memanggilku Hide, Haruka-chan, Kamito, Makita-san”

“Baiklah”
“Terserah”
“Hm”

“Oh Iya, Aku membawa kartu yg kau pinta kemarin, Kamito” kataku.

Aku mengeluarkan kartu dari kantong rokku.

“Kalian mau main apa?” tanya Hide.
“Demon Card” jawab Makita.
“Hide, Kau mau ikut? Yg kalah harus menuruti yg menang” tanyaku.
“Tentu saja aku ikut” jawab Hide semangat.
Aku mulai membagikan kartu secara sama.

10 menit kemudian...
Yang menang adalah Hide, dan yg tersisa sekarang adalah Aku dan Makita, karena aku tidak memegang kartu “Demon” ini artinya Makita yg memegangnya.

Aku mengarahkan tanganku kearah kartu kiri, Makita membuat wajah senang, aku mengarahkan tanganku kearah kartu kanan, Makita membuat wajah Sedih.

Raut wajahmu mengatakan segalanya, Makita” pikirku dalam hati.
Maafkan Aku, Makita” Ucapku dalam hati lalu memilih kartu sebelah kanan.

“Haah, Aku Kalah” gerutu Makita.
“Ya, Mau bagaimana lagi, hahaha” kataku Tertawa.

“Apa Hukumanmu Hide?” tanyaku.
“Aku ingin Makita-san bertukaran tempat duduk denganku sampai kelas 2 nanti” jawab Hide.

Kamito langsung memasang wajah tegang.

“Mana bisa begitu” kata Kamito sangat tidak setuju.
“Tidak bisa ya? Bukannya aturannya begitu ‘Yg kalah harus menuruti yg menang’” kata Hide menirukan kata-kataku.

“M-Memang begitu sih, tapi tetap tidak bisa” kata Kamito tetap menolak.
“Memangnya kenapa? Atau Kau cemburu, Kamito? Apa Aku salah?” tebak Hide.
“Untuk Apa aku cemburu,Hah?” tanya Kamito berkeringat dingin.
“Karena kau suka dengan Haruka?” tebak Hide.

Wajah Kamito langsung membeku.
Checkmate!” kata Hide dalam hati memasang senyum kemenangan.

“Tidak mungkin aku suka monster wanita seperti dia” kata Kamito tertawa.
“Siapa yg kau panggil monster ha?!” tanyaku menjitak kepalanya.
“Hahaha, Tuh kan” ejek Kamito.

Hide dan Makita malah ikutan tertawa, sedangkan aku duduk menyilangkan tangan di dada sambil menggembungkan pipi karena kesal.


Akhirnya hari itu berakhir, Hari yg panjang menurutku, dan sesuai hukuman Game tadi, Hide sekarang pindah tempat duduk disebelahku.

 To Be Continued.....